SLEMAN – Di tengah tantangan degradasi kesuburan tanah akibat ketergantungan pupuk kimia, Polresta Sleman melalui personel Bintara Kompetensi Khusus (Bakomsus) Pertanian meluncurkan sebuah inovasi ramah lingkungan berupa Pupuk Hayati Cair (PHC) untuk tanaman jagung. Langkah inovatif ini hadir sebagai respon nyata atas kekhawatiran para petani terhadap penurunan kualitas lahan akibat penggunaan input kimia yang berlebihan secara terus-menerus. Dengan mengusung konsep pertanian berkelanjutan, program ini dirancang untuk memulihkan ekosistem mikroorganisme tanah yang rusak, meningkatkan kapasitas produksi pangan, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan pertanian di wilayah Sleman.
Inovasi mutakhir ini mengandalkan ramuan organik berbasis mikroba aktif yang diracik langsung dari potensi alam sekitar oleh para personel Bakomsus. Formula pupuk memanfaatkan bonggol pisang klutuk sebagai agen pelindung tanaman yang kaya akan jamur Trichoderma sp., serta akar legum sebagai penyedia bakteri Rhizobium sp. yang andal dalam menambat nitrogen alami dari udara. Kekuatan formula ini disempurnakan oleh perpaduan tiga biang mikroba unggul—Bacillus sp., Pseudomonas sp., dan Streptomyces sp.—yang berfungsi untuk mengurai zat hara yang terkunci di dalam tanah, merangsang hormon pertumbuhan akar, dan menjadi tameng alami dalam menghalau penyakit pada tanaman jagung.
Formulasi mutakhir tersebut kemudian diproses melalui manajemen produksi yang presisi dengan memanfaatkan nutrisi pendukung seperti tepung ikan, bekatul, buah tomat, tepung beras, dan air kelapa yang kaya akan zat pengatur tumbuh. Seluruh bahan pelengkap tersebut dilarutkan dalam air murni berbasis Reverse Osmosis (RO) demi mencegah kontaminasi bakteri jahat. Campuran kemudian diberi perlakuan aerasi intensif selama 7 hari sebelum disaring dan memasuki masa inkubasi atau fermentasi akhir selama 20 hari, sebuah proses krusial untuk memastikan koloni mikroba menguntungkan telah berkembang optimal dan siap dilepaskan ke lahan pertanian.
Melalui kehadiran Pupuk Hayati Cair ini, Polresta Sleman berhasil membuktikan bahwa inovasi berbasis kearifan lokal mampu menjadi motor penggerak ekonomi hijau bagi masyarakat. Pemanfaatan limbah organik dan bahan lokal yang mudah didapat ini secara otomatis memangkas biaya modal petani untuk membeli pupuk pabrikan yang kian mahal. Keberhasilan Bakomsus Pertanian Polresta Sleman dalam menciptakan produk bernilai jual ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemandirian pangan nasional, sekaligus menjadi role model sinergi Polri dan masyarakat dalam menjaga bumi tetap subur dan petani kian makmur.